Buku; Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi

  

            



ABANG TUKANG BAKSO

                     Dari ladang buat Kirjo Karsinadi


Aku tak lagi ke perumahanmu

Sejak kucing tetanggamu mati tergilas sepeda motorku

dan engkau mengusirku pulang


Sepulangku

Anak-anak seperumahanmu

Mengafani mayat kucing itu dan menguburkannya

dengan sembahyangan dan doa duka

Selayak mengubur orang sebelum corona melarang kita


Kucing di ingatanku masih di situ

Di tempat ia tergilas menanti remah bakso jualanku

Ngeongnya masih serindu dulu

Menantiku

Kembali


Tapi bagaimana ke situ lagi

Sedang lengking usiranmu masih memortal jalanku


Kami mati serindu 

Disekat portal


Dari ladang, 15 Juni 2020


AKU TERGILAS

              Kucing di perumahan itu


Roda yang berputar cepat 

Membawamu ke perumahan Simpang Mayang petang itu

Menggilasku yang resah menantimu sejak siang

Bersama beberapa ibu dan anak-anak 

Seperumahan 


Aku cuma mau

Mengisi perutku dengan remah baksomu 

yang aduhai enaknya itu


Sayang

Aku tergilas mati 

Ketika engkau mempercepat kendara merebut pelanggan

Aku mati membawa bau bakso yang terhirup hidung

Tapi lidah tak sempat mencecap 

Remahnya


Mas

Selamat

Menggilas aku


Habis?


Dari ladang, 16 Juni 2020


ANJING EMAS


Anjing itu datang

Bersujud di depanku

Seperti pengemis rendahan

Di hadapan takhta sang raja agung


Aku membiarkan ia 

Menjilat kakiku penuh taik

yang kena menceretanku pagi ini tadi

Pulang ia dengan taik semulut

Senangnya seperti mendapat emas saja 


Ia pergi

Aku terganggu

Memikir kegilaannya akan taik itu

Aku pun pergi mengikutinya

Untuk tahu mengapa begitu gilanya ia pada barang haram itu


Sebelum jauh

Kulihat seseorang menangis di bawah batang tua

Meratapi anjing kesayangannya

Mati terbunuh lawannya berebut taik

Siang itu


Anjing pemulung taik, gumamnya


Aku jijik

Tapi tetap saja aku membantunya

Menguliti anjing itu dengan tenang


Ternyata 

Emas melulu 

Di balik kulit anjing itu


Sama peziarah

Mengapa jijik pada emas 

Berkulit haraman?


Anjing

Emas kehidupan


Dari ladang, 19 April 2020


API


Sepercik api dalam benak

Mengobarkan niatku 

Membakar sampah yang berseliweran

Dalam fikiran


Api itu terus menjalar

Membakar sampah yang bertimbun dalam dada 

Penggelap langkah

Menghari biru


Api

Membakar hanya sampah

Mengapa kebakaran jenggot?


Dari ladang, 12 Juni 2020


AYAH


Setelah 

Rambutku pada ubanan tiada sisa

Di usiaku yang ke-55 pada 25 Mei ini nanti


Barulah kutahu 

Engkaulah ibu sebelum ibuku 

yang sekarang ini


Bertahun-tahun engkau membuaiku dalam rahimmu

Mengembarai alam ini seluruh 

Sambil menghatap restuku 

Entah rahim mana yang kumaui

Jadi istana kelahiranku


Berkali-kali kau kecewa 

Karena aku belum memilih juga

Sampai akhirnya kurestui rahim dia 

yang jadi ibuku 

Sekarang ini


dan

Karena engkau telah melahirkan aku 

ke dalam rahim seagung ini

Maka jadilah engkau 

Ayahku


Ibu sebelum ibuku


Betapa kusalah memahami engkau


Ayah

Ibu abadi


Dari ladang, 07 Mei 2020


BATU BERPUCUK REMBULAN


Batu

yang kaulempariku dulu

Masih tertancap di dahiku


Darah yang ditimbulkannya

Telah melunakkan batu itu

Menumbuhkan tunasnya

Hingga begini


Pucuknya menghunjur naik

Menyepuh bulan saban malam

Mengukirkan lorong-lorong kita di wajahnya 

yang purnama


Pada purnama

Kerindangannya meneduhkan kita

yang kepanasan sendiri


Di bawah batu 

Berpucuk rembulan

Kita berpelukan lagi setelah lama

Bergigitan


Perteguhen, 08 Maret 2020


BUAH TANAMAN


Tumbuh

ataupun mati

Adalah buah pertama dari menanam


Ketika 

Tumbuh memperlama kehidupan

Maka mati menyuburkan tanah

Untuk menopang pertumbuhan itu


Buah 

Berjejer mula dari runcingan akar

Hingga ke titik pucuk yang masih

Di rahimnya


Petiklah

Buah dari pohon ini


Dari ladang, 22 Mei 2020


BUMI


Sebulan lalu

Kulihat kucing dan anjing 

Berebutan sisa makanan kami yang tak seberapa

Seekor lebah tak kebagian 

Datang menyengat bibirku siang itu


Sakitnya merayap-rayap

Sampai juga memantik kesadaranku


Ternyata 

Bumi ini piring 

Tempatku duduk menghidangkan diri

Jadi makanan

Seperti yang lain bagiku


Lebah telah mengambil bagiannya dari darahku

dan menukarkannya dengan bisa 

yang memantikku tadi


Darahku 

Madu di sarangnya yang kauambil tadi 

dan menjualnya mahal

Kepadaku 


Mahal

Darah daur ulang


Dar ladang, 10 Mei 2020


CINTA BUDI


Bocah berkaos kuning

Memungut sepotong papan di pantai Watolabi 

Bertulisan elok sekali

Itulah sebabnya ia membawanya pulang


Guru Polus 

yang melihat papan di pundak keponakannya 

Membaca tulisan itu yang lama terendam

Dalam hati


Cinta Budi

Perahu Hikmat Taran

Setia sampai mati menghantar kami bertiga Bie dan Mias

Menuntut ilmu ke Lewoleba 

Sampai begini


Perahu dan Taran telah lama tiada

Tapi budi baiknya melayarkan kami

Ke pulau-pulau jauh

Sampai tiba


Budi baik

Tak mati-mati


Dari ladang, 19 Juni 2020


EMAS SENJA 


Mentari tenggelam

Meninggalkan cahya keemasannya di batas senja

Jadi bulan malam hari menuntun nelayan

Pulang ke pantai


Ia yang tenggelam tadi

Turun ke dasar lautan bertakhta dalam nganga lokan

Memancarkan sinar cahyanya

Menuntun ikan ke umpan-umpan nelayan


Nelayan riang sekali

Membawa pulang ikan-ikan tangkapannya sepanjang malam

Tertuntun mentari yang tenggelam tadi


Mentari

yang tenggelam

Pulang dalam ikan tangkapanmu 

Bulan menuntunmu ke pantai yang tadi lagi


Betapa senang semesta

Serumah kembali

Sepiring lagi


Siapa samgka


Dari ladang, 18 Juni 2020


ISTANA KATES


Sebulan

Sesudah kutebang habis

Semua tanamanku di ladang Kenjulu


Seekor burung terbang merendah

Memungut dengan mulutnya

Ranting dan dedaunan kopi, pisang 

dan apapun yang dianggapnya pas

Jadi bahan bangunan

Sangkarnya


Kates

yang tertebang ludahan siang itu pun

Masuk juga dalam seleksi

Bahan bangunannya


Daunan kates 

yang berlumur ludahanmu

Diangkatnya dan dibawa dengan mulutnya sendiri

Tanpa malu atau jijik sedikitpun 

Pada ludahan tadi


Itu ditekuninya


Sampai 

Terbangun istana kates 

Di atas pisang depan pondokku


Setiap ke ladang

Anak-anakku memotret istana itu

Membawanya pulang sampai tertidur-tidur di dalamnya 

Bersama burung-burung itu

Sepanjang mimpi


Begitu jadinya


Dariladang, 02 Mei 2020


KAKI LANGIT

                

Hari-hari aku melangkah mendekatinya

Malah lari sekuat tenaga

Cuma mau menyentuhnya

dan itu cukup 

Untukku


Tapi bila?


Ketika mataku menyentuhnya

Nafasnya menderu menyeka lukaku

Terasa sekali jilatannya

Menenangkan


Tapi mana bibirnya?


Ia tak mau lecet kehalusannya sedikitpun

Tergores kuku kotor

Petani ladang 


Aku kecewa

Sampai tidur tersandar di pagar ladangku

Lelap tertindih beban sendiri


Begitu terbangun

Kudapati dia sedang menggeser kaki langit 

Memagari ladangku bulat-bulat dengan aku di dalamnya

Agar terhindar dari gangguan 

Apapun rupa dan bentuknya


Tangannya diangkat tinggi

Melengkungkan langit,  terpal raksasa itu

Mengatapi ladangku dari panas 

dan badai hujan


Aku termangu digugah sukma


Ia megah 

dalam kerapuhan

Kuat dalam kelemahan

Berlimpah dalam kemiskinan

Ia utuh total dalam ketelanjangannya 


Siapa pernah menyentuhnya?

Wanita itu pun 

Tidak


Sebelum merunduk

Di kaki langit


Dari ladang, 26 Maret 2020


KERENDAHAN HATI


Rundukan 

Lengkung langit

Menudungi bumi

Menanggung beban di punggungnya

Dengan setia tabah dan tawakal


Terinjak

Lentur melembut

Ditopang bumi penyanggahnya

Menatang telapak 

Mahaberat


Dari ladang, 21 Juni 2020


KULI PELABUHAN

               Kado dari ladang

               Di Hari Ulang Tahun Jokowi


Beban di punggung

Membungkukkannya hari demi hari

Sampai pada hari di mana ia tak lagi berbeban

Pun ia terus merunduk


Di bawah teduhnya rundukan itu

Kanak-kanak hingga pun negarawan sejati berkaliber Jokowi

Duduk bersamadi minta turunkan ilmu

Kerendahan hati

Supaya merakyat sahaja 

Tak terpancing kepongahan kosong

yang lagi ganas-ganasnya merajalela memangsa 

Si apa pun di negeri bertuhan ini


Ia

yang sahaja

Tenang saja di bawah lindungan 

Pohon itu


Dari ladang Pintubesi, 21 Juni 2020


LANGIT TERTUSUK DURI


Peladang 

Kaki telanjang 

Terduduk kena duri di telapak kakinya


Sakitnya menusuk naik 

Sampai ke ubun tembus ke langit

Tertusuk hati Tuhanku


Tergopoh 

Ia turun mencuci lukaku dengan darah hati-Nya tadi

Ditarik-Nya parang yang terikat di pinggangku

Meruncingi batang salib di tangan serdadu itu yg

Mencongkel keluar tanah dan semua kotoran lain yang berjubelan

Di dalam sana


Dari telapak kakiku kulihat

Lubang itu tembus ke ubun di kepalaku 

yang keras ini


Serdadu

yang sedari tadi mengawasi kami

Mengambil salib itu dan menghunjamkannya kuat-kuat

Dari ubunku terus ke kaki

dan menancapkannya 

Di bukit itu


Tuhanku

Terpaku mati di sini


Karena dan demi daku

Di ladang

Dunia 


Dari ladang, 21 Juni 2020


MATA HARI

             Karya bersama

             Yerem BW dan Kirjo Karsinadi    


Di batas senja

Hari membelah matanya

Jadi dua belahan kembar


Tempurung bulan

Berlayar mengangkasa melengkungkan langit

Turun merukuk pada tanah 

Tempat kakinya berdiri

Megah 


Tempurung mentari berlayar merendah

Ngajari bumi menjunjung langit 

Dengan sabar 

Setia


Langit

Mahkota bumi 

Bermegah di ubun bumi takhtanya


Betapa indah dan sempurnanya

Kesetiaan  

Ini


Jadilah petang dan jadilah pagi

Hari pun bersatu

Kembali


Dari ladang, 19 Juni 2020


MENCUCI MULUT


Anjing

Menggonggong malam

Mengganggu tidur sekampung  


Tapi

Bulan yang tertendang kelam

Memenuhi mulut anjing-anjing itu

Mencuci bersih pita suara mereka dengan sinar cahayanya

Sampai nurani benar-benar terdengar 

Dari gongongan itu


Gonggongan nurani

Mengusir malam


Dari ladang, 05 Juni 2020


MENGEJAR MENTARI


Sama 

Mereka bangun pagi itu

Lalu berlomba ke garis akhir


Mentari 

Menggelinding bagai bola di lengkungan langit

Bocah berjalan di bawahnya 

Sesekali berlari mengejar ketertinggalan

Karena kecantol bermain raga di tengah kampung bersama sebayanya

yang tak ikut perlombaan itu


Sesampai di pantai

yang tak jauh lagi dari garis akhir itu

Bocah terpalang laut tapi tak hilang akal

Ia mengambil sebatang kayu ganti pelampung

Terus berenang ke barat lagi  


 Di pantai seberang bocah berlabuh

Tepat di bawah bukit sandaran mentari

Berdua tertawa berolok-olokan

Satu terhadap lainnya

Senang sekali


Segaris akhirnya

Semua


Dari ladang, 18 Juni 2020



MENULIS DI LADANG


Ketika di ladang 

Kuambil cangkul lalu menulis di atas kertas raksasa itu

Anakk-anakku pun turut juga 

Menulis dengan pena 

Sebesar itu


Huruf demi huruf tertulis 


Sorenya 

Sambil melepas lelah di bawah rindangan alpukat

Ose membaca tulisan kami itu tadi


Menulis di ladang 

Menggemburkan tanah menyehatkan tanaman

Menulis di kertas dan buku sekolah

Menggemburkan fikiran

Menyehatkan hati


Semua diam

Memandangi tulisan itu tumbuh subur

Sampai berbuah

Di hati


Dari ladang, 11 Mei 2020


PAJERO

           Di jalan berlubang


Kami

Masih di sini

Di jalan berlubang-lubang ini


Kalaupun bisa ke mari

Hati-hatilah saja supaya tak terjungkal 

Ke dalam lubang

Terkubur dengan kacamu pecah-pecah


Sayang

Mahal-mahal dibayar 

Pakai keringat kami di tengah musim 

Paling ironis ini


Mendingan di kota saja 

Jalannya mulus licin tak berbatu

Bisa sangat lama usiamu dari pada ke kampung sini


Bila senja mulai tiba

Mampirlah kembali ke kampung hingga ke pondok-podok 

Menjemput suara kami lagi 

Untuk digadaikan lagi


Pajero

Terjerembab dalam lubang

Luka kami


Engkau di dalam?


Dari ladang, 28 Mei 2020


PANDAI BESI


Sepotong besi dibakar dalam tanur api 

Ditempah pandai besi 

Jadi pisau


Ujungnya yang runcing

Mencungkil duri dalam dagingku

Tapi segera aku membuangnya 

Bersebab sakit yang dikarenakannya


Apa tak sakit ia

yang dibakar dalam tanur api 

dan ditempah palu pandai besi

Hanya untuk 

Mencungkil duriku?


Tanur kehidupan menempah diri

Berendah hati


Dari ladang, 07 Juni 2020


PATUNG KITA

                Di tangga rumah


Mama


Peluk penghabisan kita di subuh terakhir itu

Mematung di tangga rumah

Tempatmu duduk menghantar kami

Pergi


Siang malam di situ

Hujan panas pun di situ 


Tetap

Tak mau diajak masuk temani Mama

Ataupun pergi bersama kami ke Medan jauh

Dengan cucumu yang kecil-kecil begini


Kini rinduku kian berat

Membungkukkan punggungku sekalipun sudah berbagi

Melalui telefon dan videokol


Tindihan berat beban rindu

Memperlahan langkahku

Untuk secepatnya sampai ke pangukuanmu 

Mama


Bila sampai


Kita berpesta pelukan 

Di kaki patung itu

Mamaku


Rindu

Memeluk kita, Mamaku


Dari Medan jauh, 20 Juni 2020


PINTUBESI SIMALEM

              Di kaki Sinabung


Derit pintu 

Setiap kali kami membuka 

dan menutup rumah pengungsian 


Adalah rindumu

Memanggil pulang semua kami 

yang tercerai-berai meninggalkanmu di kaki Sinabung

Berkubang debu dan lumpur air mata


Deritan itu 

Terus memanggil dan membujuk-bujuk

Sampai merasuk dalam mimpi dan igauan malam anak-anak kami

Minta pulang padamu lagi


Kami pun 

Pulang riang  sekali

Di hari kelima Oktober lalu

Mendapatimu compang-camping di pintu pagar

Menyambut kami 


Sampai ke dalam


Hati robek-robek

Bertatapan


Sama

Sepelukan lagi

Menambal kampung


Rinduku


Pintubesi, 19 Juni 2020


PINTU RUMAH


Mulut 

Membuka pintu rumahmu lebar-lebar

Tak satu pun tersembunyi


Ketika ia mengasah gigi

Parang-parang tajam berhamburan keluar

Memenggal apapun 

Di hadapannya


Siapa tahan di pintumu?


Lembu semulut pun

Kumuntahkan ke piringmu lagi

Simpan harta

Taik itu


Tapi bila memoles mulut dengan santun

Tak berundang pun aku datang 

Mencebok pantatmu karena sayang

Seperti anjing pada taik

Cintaku padamu


Mulut 

Penanda diri


Dari ladang, 20 Juni 2020


PUSAI


Kepak sayap elang

Memanggilku terbang 

Ke dalam sarang

Sendiri


Dari ladang, 11 Juni 2020


REKAMAN PERSAUDARAAN


Tali yang menghubungkan kita

Melalui pusat ibunda

Kekal ikatannya


Tapi mengapa

Bertemu hanya untuk bertengkar

Lalu berpisah sampai pertengkaran berikut

Untuk bergigitan lagi 


Inikah 

Persaudaraan sedarah

yang patut kita wariskan?


Dari ladang, 10 Juni 2020


SEBULIR PADI BUAT GEREDA


Aku tak habis pikir

Kenapa padi merunduk rendah

dan jagung terus menjulang tinggi


Di ujung telefon kudengar engkau, wahai Guruku


Guru 

Berilmu padi

Kian berisi kian runduk 

Memberi diri pada didikannya

Untuk tegak seperti jagung kukuh mengejar impian


Didikan 

Berguru pada jagung

Tulus lurus mengisi diri tak bertunduk pada aral

Sampai bernas isi merundukkannya berguru pada padi


Seperti gurunya


Dari ladang, 20 Juni 2020



SENYUM TENGA


Senyum

yang bertahun-tahun kucari itu

Datang juga

Sekalipun cuma melalui we-a


Senyum itu

Telah melunakkan wadas keras

Jadi roti paling lembut


Maka Ia mengambil roti itu

Mengucap berkat dan memecah-mecahkannya

Lalu membagikannya ke tangan kami bertujuh

Agar menyatu kembali dalam dia

Roti yang satu dan sama itu

Sejak santap

Bersama


Ketika itulah


Mata kami terbuka

Melihat tali pusat kami masing-masing

Bersehubungan kembali satu dengan lainnya

Sampai juga ke pusar ibunda 

yang putus tergigit taring-taring kami

Ketika panas 

Membara


Senyum

Penyambung tali pusat

Pengikat kami 

Serahim 


Dariladang, 27 April 2020


SUNSET DI BAOBOLAK

                   Membaca foto profil Bbolk P.

                    

Sanset Babo

Mengecat langit dengan warna keemasan

Lalu tenggelam ke dalam lautan


Seorang bocah

Memotret lukisan itu lalu pulang bersama air matanya

Mita belikan baju sewarna benar dengan lukisan emas senja tadi

yang terbawanya kini

Dalam kepala


Ibunya

Menjual kayu bakar ke Waiwerang

Membeli kaos keemasan buat si bungsu

dan pinsil warna murah-murah dambaannya

Sejak lama


Bocah 

Menyambutnya dengan gembira

Menggambar lukisan di kepalanya tadi

Membawanya ke pantai - tempat perahu Cinta Budi bersandar- 

dan menyandingkannya dengan sanset di kaki langit


Sampai tenggelam mentari

Bocah masih di situ

Melukis ulang 

Miripannya


Sampai 

Pulangnya


Dari ladang, 17 Juni 2020


UANG PARANG

             Awasan  Pilkada Lembata


Uang 

Itu parang

Di tangan beruang

Merintis jalan ke kampung-kampung

Memborong lidah-lidah rakyat


Setelah dikumpulkannya

Lidah-lidah itu dijahitmatikan dengan lidahnya sendiri

Supaya apa katanya 

Itu kata kita


Bagaimana mengelak dari lidah sendiri?


Pantas 

Tertinggal


Dari ladang, 03 Juni 2020

Komentar