Postingan

Lidah Lautan

Lidah lautan yang menjilati kaki kami petang itu Melayarkan anganku ke Awololon yang terjilatinya Dulu itu Awololon Tenggelam lenyap Tinggal siput-siput bertebaran Siapa rindu padamu lagi Siapa terkenang padamu lagi Beruang Beringas Berdatangan Bergerombol membangun Babel di atas makam kekasih kami Tapi siapa sudi mengusik beruang Babel di atas makam kekasih Menindih rindu Tak berujung          Istana Rindu, 30 Juni 2020 *) Puisi ini dimulai dari Pintu Pencecapan.

Abang Tukang Bakso

                        Teruntuk Kirjo Karsinadi Aku tak lagi ke perumahanmu Sejak kucing tetanggamu mati tergilas sepeda motorku dan engkau mengusirku pulang Sepulangku Anak-anak seperumahanmu Mengafani mayat kucing itu dan menguburkannya dengan sembahyangan dan doa duka Selayak mengubur orang sebelum corona melarang kita Kucing di ingatanku masih di situ Di tempat ia tergilas menanti remah bakso jualanku Ngeongnya masih serindu dulu Menantiku Kembali Tapi bagaimana ke situ lagi Sedang lengking usiranmu masih memortal jalanku Kami mati serindu  Disekat portal Dari ladang, 15 Juni 2020

Batu Terbang

  Batu  Terbang Cepat-cepat mencari celah  Tempat bertengger  Bersarang Dengan cakar makarnya Ia mengorek paksa  Membuang habis isi kepala bocah baru belajar Bersarang dia di situ Beranak cucu dia di situ Semua senyap seperti tak tahu  Tapi Setelah lama  Tak tertampung lagi dalam kepala Batu terbang bersama semua anak cucunya Beterbangan keluar Mencari mangsa Di luar Batu terbang patah sayap tertembak pemburu Dor! Batu Jatuh  Terundung  Sayap sendiri Bagaimana berdiri lagi          Perteguhen, 24 Desember 2022 *) Puisi ini dimulai dari PINTU GERAK/ KINESTETIK.

Wajah Penuh Darah

                       <Membaca tragedi anjing kecil 1> Anjing kecil Tergilas mobil  Di tengah jantung kota  Siapa dengar erangannya Siapa paham jeritan tangisnya Anjing kecil Tutupi wajahnya dengan darah Takut dia ditandai bunda  Tambah beban di dada Anjing kecil Tutupi matanya dengan darah Takut lihat iba bunda Wajah penuh darah siapa punya Wajah penuh darah siapa peduli Cuma bunda Menjilat wajah penuh darah Menyatukannya dengan darah sendiri Siapa pernah menceraikan darah dari darah Cuma bunda Mengecup kerning penuh darah Membuka kelopak-kelopaknya Untuk tatapan terakhir yang hidup  di kematian ini Anjing kecil Wajah  Penuh darah Siapa mengenangnya             Gang Olakisat, 23 Desember 2022

Pantun Pagi (5)

Batang kemipi bertumbuh naik Sampai di atas jadi temali Lakukan yang baik dengan baik Atau tidak sama sekali Dari Medan sehari tempuh Sampai juga ke tanah Dairi Mulut besar senjata terampuh Untuk membunuh nurani  sendiri Biarpun waktu sungguh mepet Masih ke kali mencari belut Menyimpan uang dalam dompet Menyimpan diri di dalam mulut Pergi ke ladang memanen kentang Bawa ke pasar Berastagi Melalui pekerjaan rizki 'kan datang Tapi kemalasan mengusirnya pergi Tiap malam kami bermohon Saat kepala sudah di bantal Badai angin kuatkan pohon Badai kehidupan kuatkan mental Gang Olakisat, 19 Mei 2022

Tukang Sampah

Pagi-pagi ia bangun menjemput sampah dari pintu ke pintu. Tanpa absen. Sebab absen berarti kiamat baginya. Sehari tak kerja, sehari itu pun mati tungku. Tak makan. Tak sekolah anak semata wayangnya. Maka sakit yang masih bisa dibawa-bawa tak jadi alasan untuk absen sehari dua hari. Ia,  tak mau absen. Tak mau memperpanjang litani kiamat-kiamat kecil itu. Ia,  tak mau membiarkan sampah mengotori kampung kami, jalanan kami, gang kami, rumah kami, kamar kami, sempa kami, aurat kami. Di sekolah. Anaknya yang semata wayang itu diolok, diejek habis-habisan oleh teman-temannya, hanya karena berayah si tukang sampah tadi. Ia cantik. Tertib, bersih, necis dan api lagi. Tapi hampir semua teman menjauhinya. Bau sampah pada ayahnya, dilekatkan juga pada dia. Dia diam sampai-sampai jadi pendiam, penyendiri. Ketika jam pelajaran tiba, barulah ia bersemangat kembali. Karena semua tugasnya beres dan ini yang menghiburnya sebab para guru menyukai ketekunannya. Di bawah upacara bendera di suatu...

Buku; Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi

                ABANG TUKANG BAKSO                      Dari ladang buat Kirjo Karsinadi Aku tak lagi ke perumahanmu Sejak kucing tetanggamu mati tergilas sepeda motorku dan engkau mengusirku pulang Sepulangku Anak-anak seperumahanmu Mengafani mayat kucing itu dan menguburkannya dengan sembahyangan dan doa duka Selayak mengubur orang sebelum corona melarang kita Kucing di ingatanku masih di situ Di tempat ia tergilas menanti remah bakso jualanku Ngeongnya masih serindu dulu Menantiku Kembali Tapi bagaimana ke situ lagi Sedang lengking usiranmu masih memortal jalanku Kami mati serindu  Disekat portal Dari ladang, 15 Juni 2020 AKU TERGILAS               Kucing di perumahan itu Roda yang berputar cepat  Membawamu ke perumahan Simpang Mayang petang itu Menggilasku ...