Dari Mana Memulai Puisi


                            *
Dari mana memulai puisi? Pertanyaan bodoh tapi penting dan mendesak bagi sebagian pemula termasuk saya sendiri. Para penyair senior tentu dengan mudah memulai puisinya lalu menyelesaikannya, bisa dalam hitungan menit saja. Tapi kita pemula?

Sebelum memulai sebuah puisi, alangkah baiknya kita mengenali sedikit lebih jauh apa sesungguhnya puisi dan apa pula sastra itu. Agar kita memiliki dasar pijak yang pas untuk memulai puisi.

Secara etimologis (asal kata), kata puisi berasal dari kata bahasa Yunani, poites yang berarti membangun, pembuat, pembentuk. Atau dari kata bahasa Latin, poeta yang berarti membangun, menimbulkan, menyebabkan, dan menyair. Dengan demikian maka secara radikal (radix=akar) puisi berarti dunia bentukan yang dibangun penyair.

Sedangkan sastra, berasal dari kata bahasa Sanskerta; dari akar kata 'sas' dan 'tra'. Sas berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, sedangkan tra berarti alat atau sarana.
Kata sastra kemudian diberi imbuhan 'su' ( bahasa Jawa) yang berarti baik atau indah. Pengertiannya pun berkembang menjadi
"Buku yang baik dan indah." Baik isinya , indah bahasanya. Secara harafiah sastra berarti huruf, tulisan atau karangan. Tulisan atau karangan biasanya berwujud buku maka sastra berarti juga buku.

Dari pengertian etimologis baik sastra maupun puisi seperti terurai di atas dapatlah dikatakan:

1.Puisi adalah dunia indah dan baik bentukan penyair. Dunia bentukan ini terbangun dari hasil bacaan penyair atas seluk-beluk kehidupan.

2. Sebagai karya sastra, puisi lalu menjadi sarana yang indah dan baik untuk mengarahkan, memberi petunjuk. Puisi, indah bahasanya dengan memperhatikan diksi, rima, ritme dan lain sebagainya. Baik isinya karena  mengandung nilai luhur tertntu.  Dalam puisi, keindahan bahasa dan nilai luhur adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Tak terpisahkan. Bila terabaikan satu di antaranya, seketika itu juga lenyaplah puisi sebagai karya sastra.

                                     **
Kita kembali. Untuk memulai sebuah puisi kita butuh pintu masuk. Tanpa itu kita tetap saja meraba-raba. Maka berikut akan dibuka delapan pintu masuk untuk memulai puisi.

1. Pintu Penglihatan atau Pintu Visual

Batu yang kita lihat, suara yang kita dengar ataupun bau amis yang tercium, semuanya berpeluang menjadi bahan baku sebuah puisi. 

Batu yang kita lihat tadi, yang tertangkap mata tadi. Batu itu bisa saja tetap berada di tempatnya semula, namun secara imajinatif kita angkat dan menempatkannya dalam angan kita, dalam fikiran kita untuk kemudian menginspirasi kelahiran sebuah puisi. 

Gambar batu dalam fikiran inilah cikal bakal sebuah puisi. Karena gambar tersebut masuk ke dalam fikiran melalui tangkapan mata, tangkapan indra penglihatan maka pintu untuk memulai puisi seperti ini kita sebut Pintu Penglihatan,  atau Pintu Visual (Latin: Videre, melihat).

Selanjutnya. Dengan gambar tersebut, maka batu yang adalalah sebentuk benda mati di alam nyata, menjadi hidup dalam fikiran. Pada tataran ini batu bisa menjadi apa saja, bisa melakukan apa saja. Batu yang keras itu bisa menjadi semakin keras melampaui kekerasan besi, sebaliknya pun bisa melunak, empuk malah rapuh. Batu lalu bisa dicicipi dan masih banyak lagi yang bisa tertangkap bila saja batu tadi sudah dalam rupa gambar dalam angan. Sampai di sini, kiranya kita sudah memiliki cukup bahan untuk memulai Puisi Visual kita perihal batu. 

Kita beri saja judul tentatif untuk memertegas imajinasi dan bisa diubah bila perlu..

BATU

Batu
yang kautendang tadi
Minggir ke sisi jalan mengintipmu
Kapan lewat lagi

Ia mengasah giginya tajam-tajam
Nekat kuat memenggal leher
Ibu jarimu
Sampai ke leher ibumu

Batu
Dendam

Dari ladang, 01 Mei 2020

Puisi ini memperkuat hakekat batu yang keras dan jadilah puisi batu dendam. Tapi gambar dalam fikiran bisa saja menawarkan sebuah batu yang melunak, lembut. Hal itu, tercbaca dari puisi berikut.

BATU

Melihat batu
yang lagi ngambek
Tegal tidur terusik usiran

Ibunda
dari jari kakiku
Membujuknya pulang rumah

Batu mengeras

Hujan menderas
Banjir sekampung malam itu
Serumah dalam gulana

Pagi sekali
Sebelum fajar membangunkan hari
Kulihat batu telah di pintu
Terbawa banjir
Ke mari lagi

Batu besi
Luluh lunak di kaki bunda

Dari ladang, 01 Mei 2020

Tentu saja, batu yang sama itu akan 'melahirkan' beberapa puisi lain lagi, tergantung  kejelian kita merebut kemungkinan nilai yang ditawarkannya.

2. Pintu Pendengaran atau Pintu Auditif (bersambung)...

Komentar